Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Belajar Membuat Puisi Kontemporer

  TANPANYA: MATI Fiane N. Setiady     I !   IN   IN ! ! INDONESIA   ! !   INDONESIA INDONESIA   ! !   INDONESIA    IN    INDONESIA   !   !   UDARA    TANAH    RUMAH     AIR     CAHAYA   ! INDONESIA     RUMAH!        INDONESIA INDONESIA     RUMAH!       INDONESIA UDARA TANAH            CAHAYA      AIR UDARA TANAH           CAHAYA       AIR RUMAH RUMAH           RUMAH RUMAH INDONESIA    RUMAH!     INDONESIA!!   Depok, 19 Januari 2020 Lagi-lagi, tugas dari Wilwatikta. Tanpanya, puisi kontemporer di luar jangkauanku.

Kau yang T'lah Pergi

𝘒𝘦𝘫𝘰𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘣𝘪𝘳𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘣𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘵𝘢𝘮 𝘢𝘴𝘺𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘨𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘴𝘢𝘵𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶. 𝘛𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘤𝘢𝘶. 𝘛𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘶, 𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 '𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘶. 𝘈𝘬𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘬𝘢𝘶, 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶, 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘴𝘶. 𝘓𝘪𝘭𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘵𝘢𝘣𝘪𝘳 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶. 𝘞𝘢𝘩𝘢𝘪, 𝘬𝘦𝘫𝘰𝘳𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵; 𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘮𝘪, 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘣𝘢𝘥𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶...

Renjana Seorang Ibu

Rela Menjadi Iblis untuk Melindungi Anaknya (Review Novel "Holy Mother" - Akiyoshi Rikako) Data Buku: Judul                 : Holy Mother Penulis              : Akiyoshi Rikako Penerjemah       : Andry Setiawan Penerbit, tahun  : Haru, 2016 Banyak orang yang beranggapan bahwa seorang wanita baru disebut sempurna apabila telah menjadi ibu. Namun, tidak semua orang dengan mudah memiliki anugrah ini. Didiagnosa menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS), Honami mengalami kesulitan memiliki anak. Dia berkali-kali keguguran. Dia pun harus menjalani prosedur kedokteran yang panjang, melelahkan, bahkan menyakitkan. Setelah perjuangan panjang, dia akhirnya berhasil melahirkan seorang putri.  Di kota Aiide, tempat Honami tinggal, ditemukan mayat korban pembunuhan yang sangat brutal dan tidak berperikemanusiaan. Tak hanya dibunuh, jasad korban yang masih TK juga diperkosa lalu dibuang da...

Nostalgia dengan Novel Lima Sekawan

Karya Enid Blyton ini pertama kali diterbitkan tahun 1953 dengan judul "Five Go Down to The Sea". Kemudian baru dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia tahun 1980 oleh Penerbit Gramedia. Nah, buku yang kubaca ulang ini cetakan ke-16 yang terbit bulan November 2015 lalu. Lima Sekawan merupakan kisah petualangan empat orang anak (Julian, Dick, George, dan Anne) ditambah Timmy, seekor anjing. Dalam Lorong Pencoleng merupakan buku seri yang ke-12. "Kali ini Lima Sekawan yakin di daerah pesisir Cornwall yang sepi dan tak akan ada petualangan. Tapi, ketika suatu malam mereka melihat sinar memancar dari sebuah menara tua, mereka jadi bertanya-tanya. Betulkah di zaman sekarang ini masih ada pencoleng yang merampok kapal-kapal yang lewat dengan menyalakan suar palsu? Akankah besok mereka menemukan kapal yang pecah berkeping-keping karena dijebak oleh para pencoleng itu?" Begitulah blurb yang tercetak di belakang bukunya. Di Cornwall, Lima Sekawan menginap di Tremannon Far...

Antara Aku, Mereka, dan Ruang Hampa

  Tawon-tawon di kepalaku pun diam, tak berdengung seperti biasanya. Sepi. Kupanggil geng rusuh, berharap bisa mengembalikan keributannya. Namun tawon-tawon itu tetap sembunyi, hanya mengintip malu bagai tuan putri. "Kemarilah, jangan sembunyi!" Kupanggil nama-nama kalian satu per satu. Senyap. Ternyata hanya ada aku sendiri. Sunyi. Tak ada suara, aku bagaikan terpenjara di ruang hampa. Ah, kalau saja benar ruang hampa itu ada. Adakah di sana waktu berjalan sama seperti di dunia nyata? Lalu bisakah tawon-tawon itu nanti kembali menggemakan dengungnya? Kesunyian ini terasa begitu mencekik jiwa. Apakah tawon-tawon itu memang sudah pergi? Kehilangan mulai terasa menggerogoti hati. *** Jangan tanya ini tulisan apa. Karena aku akan menjawab, "Entahlah. Kaucari tahu saja sendiri." Mungkin inilah yang disebut writer's block. Mata menatap tulisan, tapi otak rasanya tak tahu mesti mengerjakan apa. Padahal peer editan masih ada, outline yang belum digarap pun masih menung...

Romansa di Kaki Gunung Haruman

Kubayangkan kedua anak itu berjalan sembari berpegangan tangan, menikmati udara yang menggigit tulang. Mereka pasti akan mendapati hamparan hijau tertutup selimut putih. Tak akan tampak satu pun gedung pencakar langit yang menyesakkan mata, dengan dindingnya yang kokoh seakan berkuasa. Melegakan! Di kaki Gunung Haruman, aku pun dulu pernah merasakan. Kaki-kaki kecil berlarian diapit benih-benih padi yang baru ditanam. "Ayo, cepatlah!" teriaknya terdengar diantar desir angin. "Tunggu! Jalanmu terlalu cepat." Aku balas berteriak sambil terus menelusuri jalan sempit di antara petak-petak sawah. Sampai di dekatnya, aku pun berdiri diam memandang berkeliling. "Hah! Lihatlah!" Bahkan deru napas kami pun memiliki rasa di sini. Ada awan kecil keluar dari mulut yang terbuka. Kekehan tawa menyusul perkataannya. "Dasar bocah! Begitu saja senang." Mataku melotot tak suka. Setengah bercanda, aku memukul lengannya. "Hei! Kita ini seusia, hanya beda lima p...

TANGISAN BULAN DI LANGIT YANG TIDAK BIRU

Tersengutsengut Berawai ilusi Ruang lmaji, 13 April 2019 Putipa adalah puisi tiga kata (putika) yang menggunakan judul lebih panjang dan luas dibandingkan judul biasa. (Intisa, 2015: 31)