Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

MENJELANG BADAI

  Angin meraung dari balik jendela Kopi tak lagi menguarkan aroma Asap rokok di asbak pun telah lama hilang Dua insan duduk ditemani cangkir-cangkir kosong bersama hati yang semakin kopong   Perasaan mereka sama-sama membeku Dingin dan keras bagai es membatu Berlindung di balik benteng keegoisan Cinta yang dulu jadi pegangan Kini hanya bayang-bayang kenangan   Suara terkunci bagai dalam sel tahanan Kata-kata hilang ditelan kebisuan Kalah dari petir yang menyambar pelataran meneriakkan aneka tuduhan Tak ada lagi kedamaian   Luka di hati saling mereka torehkan Tanpa maaf, perlihatkan keangkuhan Tanpa cinta, tunjukkan ketidakpekaan Menghunjam dalam rutinitas keseharian   Badai berkecamuk dalam dada Membaurkan rasa yang meretih Haruskah perpisahan dijadikan jawaban? Sementara hujan datang tanpa undangan Hati mereka pun semakin hampa Depok, 28 Desember 2020

MERINDU DALAM HUJAN

Untukmu, yang telah pergi Hujan membasahi pusaramu Bagaimana kabarmu di dunia lain itu? Ingin kubagi cerita bersamamu   Mendengar lagi riang suara tawa candamu Saat ini kita tak bisa lagi bersama Aku berjalan dalam kesendirian Mencoba untuk terus bertahan Bersama curahan abadi cintamu   Bila air mata mengalir tanpa tertahan Bait-bait doa kulantunkan untukmu Adakah kau merindukan aku? Adakah hujan sampaikan rinduku? Biarkan saja kupeluk erat kenanganmu Malam ini dan selanjutnya   Jangan pernah kau harapkan Bahwa nanti diriku akan melupakan Semua yang sudah pernah kita jelang Karena cintaku begitu dalam Padamu, wahai Sayang Desember 2017 *** Puisi ini telah diterbitkan Penerbit Inkumedia (2017) dalam antologi Hujan.   Untukmu yang telah pergi ... aku merindukanmu, lagi. Selalu. Desember 2020

Review Buku: The Grand Sophy Karya Georgette Hayer

  Judul: The Grand Sophy Pengarang: Georgette Heyer ISBN: 978-602-385-256-7 Penerbit: Noura Books Penerjemah: Nuraini Mastura Penyunting: Yuniasari Shinta Dewi & Yuli Pritania Jumlah halaman: 556   Sinopsis: Kedatangan Sophy yang disebut-sebut sebagai gadis mungil, mandiri, dan tidak pernah mencari gara-gara begitu mengejutkan keluarga Ombersley. Pertama, gadis itu sama sekali tidak mungil-tingginya 175 senti! Kedua, tidak pernah mencari gara-gara mungkin perlu dipikir ulang, karena kedatangan gadis itu justru membuat gempar! Dia memberi para sepupu kecilnya hadiah seekor monyet, membawa anjing greyhound sebagai peliharaan, dan bertanya di mana dia bisa menyewa istal untuk menampung kuda-kuda gagah miliknya! Sophy sendiri hanya perlu menghabiskan waktu sehari bersama keluarga adik ayahnya itu untuk tahu mereka semua terlibat dalam banyak masalah: dari kisah percintaan para sepupunya yang rumit hingga utang-piutang yang melilit. Sophy mungkin memang terlahir untuk menyelesa...

Review Buku: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 karya Cho Nam-Joo

  Judul: Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 Penulis: Cho Nam-Joo Alih bahasa: Iingliana Editor: Juliana Tan Penyelaras aksara: Mery Riansyah Ilustrator: Bella Ansori Cetakan : 2019, 192 hlm; 20 cm ISBN: 9786020636191 Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama B l u r b : Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari. Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak. Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh. Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi. Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri. Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia. Kim Ji-yeong, ...

Memori Senja

  Bunga Flamboyan mekar lagi, Sayang Membuatku mengenang suatu masa Saat masih bersamamu, Sayang Senja terakhir di bawah flamboyan Kita terdiam, membisu dalam angan Awan mendung menggelayut di langit Menyaksikan memori senja di bawah flamboyan Aku akan pergi Tak perlu kau menanti Karena aku tak akan pernah kembali. Kau boleh merindukanku Kau boleh membenciku Tapi jangan menangisiku Kau boleh cari penggantiku Karena aku tak akan lagi peduli Di hatiku, kata-katamu begitu terpatri Lalu kau pun pergi, Sayang Meninggalkanku sendiri Dalam hujan yang merinai Dan batu nisan yang tertinggal Di tengah kemacetan tol tambun, 8 Desember 2017 Terinspirasi dari cerita seorang teman

MONOLOG

"Kau akan meminum obat itu lagi!"  Pernyataan frustasi Clara terdengar saat aku menuangkan obat dari botolnya. Seratus persen itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan yang harus kujawab. "Ayolah, Ef! Kamu dulu lebih baik dari ini," Clara mendesah. "Kamu ... kamu bisa menceritakan semua masalah padaku. Kita bisa mencari solusinya. Kamu tak butuh obat-obatan itu!"  Aku mengabaikan omongan Clara,  terus berjalan tersaruk-saruk menuju sofa butut yang busanya sudah melesak. Di bawah meja, terdapat  plastik berisi nasi goreng yang tidak habis kumakan tadi. Aku terlalu malas untuk membuangnya ke tempat sampah.  Dengan tatapan meminta maaf pada Clara, aku langsung menenggak obat di genggaman.  "Menyebalkan! Kamu benar-benar mengenaskan." Seperti biasa, pendapat Clara selalu benar , kondisi ini memang menyebalkan.   Clara harusnya tahu, aku hanya ingin tidur tenang, tanpa harus bangun dengan terengah-engah akibat mimpi buruk lalu menjadi gila.  Entah kapan...

Orang Gila

I orang gila  merajalela di sana-sini katanya dia tak segan melukai merusak merebut mencaci maki peringatan tetangga dulu tak kupeduli penyesalan pun kini tak berarti II orang gila  di halaman rumahku kemeja compang-camping  bagai tak berbaju badannya ramping tubuh busuk berbau pesing orang gila  menyusup  lewat celah pagar tak tertutup dia duduk di bangku menatapku yang berdiri kaku berteriak tapi bibirku kelu orang gila  tersenyum kelam tidak! dia menyeringai kejam tunjukkan taring-taring tajam seakan-akan kirimkan peringatan tanpa ucapan siap mengoyak kehidupan yang nyaman mungkin sadar tak kusambut orang gila  mengamuk bak angin ribut tak ada yang buat dia takut bahkan menantang bergelut sedangkan pikiranku semakin kalut di luar, kumpulan muda-mudi katanya berkumpul urusan pribadi ke luar rumah menggerakkan ekonomi perut-perut sudah berontak minta diisi kuminta mereka jauhkan diri ada  orang gila  di sini aku memang tak tinggal sendiri di...

(Bukan) Desember Kelabu

Setiap memasuki bulan penghujung tahun, selalu mengingatkan saya pada sebuah lagu lawas berjudul " Desember Kelabu ". Lagu yang pernah dipopulerkan Maharani Kahar serta Yuni Shara itu merupakan salah satu lagu kesukaan Mamih. Waktu saya kecil, beliau suka memutarnya bersama lagu-lagu golden memories di rumah. Kebiasaan yang menjadikan anak-anaknya lebih akrab dengan lagu-lagu lawas tahun 70-90-an daripada lagu zaman now.  Biasanya, saya dan suami dua-tiga minggu sekali pulang kampung. Namun, sejak terjadi pandemi, kami sama sekali belum pulang. Rindu? Tentu saja! Kini, lagu "Desember Kelabu" itulah yang menjadi salah satu pengobat rindu selain panggilan video.  Mengawali hari di awal Desember ini, saya melakukan panggilan video dengan adik-adik dan Mamih. Alhamdulillah, mendapat kabar baik. Adik saya yang bungsu kemarin baru menyelesaikan sidang masternya. Congratulation!   Panggilan video dengan keluarga tidak berlangsung lama, karena pertemuan dengan tim dari Dir...